Start: 30 July 2015 | Finish: 10 Agust 2015

We're Coming Soon

We are working very hard on the new version of our site. It will bring a lot of new features. Stay tuned!


days

hours

minutes

seconds

Subscribe to our newsletter

Sign up now to our newsletter and you'll be one of the first to know when the site is ready:

Copyright © Galaxy Mcs | Powered By Blogger | Published By Gooyaabi Templates
Design by AZMIND | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com

Rabu, 07 November 2012

Cara menyampaikan dan Mengekspresikan Dialog dalam Drama


                Ciri naskah drama yaitu adanya dialog karena drama merupakan karya sastra yang menggunakan dialog untuk menggambarkan sebuah cerita. Drama dibangun oleh berbagai unsure  seperti halnya cerpen, yakni tema, tokoh, alur, latar, dan dialog.
                Naskah drama dibuat bukan semata-mata untuk dibaca, tetapi lebih dimaksudkan untuk dipentaskan. Untuk mewujudkan naskah drama menjadi sebuah pementasan, diperlukan banyak pihak yang harus bekerja sama secara kompak. Pihak-pihak tersebut adalah produser, sutradara,
actor/aktris, dan desainer. Berbagai pihak ini kemudian mengubah dan mengonkretkan naskah menjadi konsep produksi, yakni suatu rumusan konseptual atau ide dasar yang menyatukan berbagai aspek pementasan yang berbeda sehingga dapat berbentuk suatu sudut pandang pemaknaan bersama terhadap produksi pementasan.  Rumusan ini bersifat general, konkret, dan inspiratif.
                Saat memerankan naskah drama, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
1.       Setiap kata harus diucapkan atau dilafalkan dengan jelas.
2.       Kata-kata dalam dialog drama harus ditekankan keras atau lembut. Kata-kata yang diucapkan dengan tekanan keras atau lembut adalah kata-kata yang dianggap penting dari pada kata-kata lain.
3.       Tekanan tinggi rendahnya pengucapan suatu kata dalam kalimat atau intonasi yang digunakan harus tepat.
4.       Tekanan cepat lambatnya pengucapan suatu kata dalam kalimat (tekanan tempo).
5.       Menunjukkan gerakan tubuh (gerak-gerik) dan ekspresi wajah (mimik) yang sesuai dengan karakter atau watak tokoh yang diperankan. Melalui mimic dan gerak tubuh, pemain juga harus dapat menunjukkan perasaan yang sedang dialami tokoh yang diperankan. Misalnya kegembiraan, kejengkelan, kejemuan, kesedihan dan ketakutan.
6.       Warak tokoh dalam drama terlihat dalam percakapan antar tokoh. Dalam percakapan itu tergambar sifat dan tingkah laku setiap tokoh. Dari kata-kata dan gerak-geriknya tergambar watak jahat, baik hati, pemarah, jujur, pembohong, pendendam, dabar atau yang lainnya.

Jika anda memerankan drama, anda harus menjiawai watak tokoh yang anda perankan. Lakukan hal-hal berikut agar anda dapat menjiwai watak tokoh dengan baik.
1.       Membaca naskah drama, khususnya pada tokoh yang akan diperankan secara berulang-ulang.
2.       Mengamati orang-orang yang memiliki watak mirip dengan tokoh yang hendak diperankan.
3.       Jika tidak ada, pemain dapat melihat foto-foto, cerita sejarah, atau sumber lain yang dapat mendukung karakter tokoh.
4.       Berlatih memerankan tokoh sesuai dengan karakternya, baik tokoh antagonis maupun tokoh protagonis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jika artikel ini bermanfaat bagi anda, silahkan di like.

Komentar, Saran dan Kritik sampaikan disini. komentar akan saya moderasi dulu sebelum di tampilkan. semua komentar akan saya aprove, kecuali komentar yg masuk SPAM dan Komentar Kasar. Terimakasih sudah berkunjung ke Blog saya.

Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Top Slider

About Me

Foto Saya
semoga dengan saya membuat blog ini kita bisa saling memberi manfaat kepada sesama

Contact

Nama

Email *

Pesan *

Pengikut

Blog Archive

Rabu, 07 November 2012

Cara menyampaikan dan Mengekspresikan Dialog dalam Drama


                Ciri naskah drama yaitu adanya dialog karena drama merupakan karya sastra yang menggunakan dialog untuk menggambarkan sebuah cerita. Drama dibangun oleh berbagai unsure  seperti halnya cerpen, yakni tema, tokoh, alur, latar, dan dialog.
                Naskah drama dibuat bukan semata-mata untuk dibaca, tetapi lebih dimaksudkan untuk dipentaskan. Untuk mewujudkan naskah drama menjadi sebuah pementasan, diperlukan banyak pihak yang harus bekerja sama secara kompak. Pihak-pihak tersebut adalah produser, sutradara,
actor/aktris, dan desainer. Berbagai pihak ini kemudian mengubah dan mengonkretkan naskah menjadi konsep produksi, yakni suatu rumusan konseptual atau ide dasar yang menyatukan berbagai aspek pementasan yang berbeda sehingga dapat berbentuk suatu sudut pandang pemaknaan bersama terhadap produksi pementasan.  Rumusan ini bersifat general, konkret, dan inspiratif.
                Saat memerankan naskah drama, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu sebagai berikut.
1.       Setiap kata harus diucapkan atau dilafalkan dengan jelas.
2.       Kata-kata dalam dialog drama harus ditekankan keras atau lembut. Kata-kata yang diucapkan dengan tekanan keras atau lembut adalah kata-kata yang dianggap penting dari pada kata-kata lain.
3.       Tekanan tinggi rendahnya pengucapan suatu kata dalam kalimat atau intonasi yang digunakan harus tepat.
4.       Tekanan cepat lambatnya pengucapan suatu kata dalam kalimat (tekanan tempo).
5.       Menunjukkan gerakan tubuh (gerak-gerik) dan ekspresi wajah (mimik) yang sesuai dengan karakter atau watak tokoh yang diperankan. Melalui mimic dan gerak tubuh, pemain juga harus dapat menunjukkan perasaan yang sedang dialami tokoh yang diperankan. Misalnya kegembiraan, kejengkelan, kejemuan, kesedihan dan ketakutan.
6.       Warak tokoh dalam drama terlihat dalam percakapan antar tokoh. Dalam percakapan itu tergambar sifat dan tingkah laku setiap tokoh. Dari kata-kata dan gerak-geriknya tergambar watak jahat, baik hati, pemarah, jujur, pembohong, pendendam, dabar atau yang lainnya.

Jika anda memerankan drama, anda harus menjiawai watak tokoh yang anda perankan. Lakukan hal-hal berikut agar anda dapat menjiwai watak tokoh dengan baik.
1.       Membaca naskah drama, khususnya pada tokoh yang akan diperankan secara berulang-ulang.
2.       Mengamati orang-orang yang memiliki watak mirip dengan tokoh yang hendak diperankan.
3.       Jika tidak ada, pemain dapat melihat foto-foto, cerita sejarah, atau sumber lain yang dapat mendukung karakter tokoh.
4.       Berlatih memerankan tokoh sesuai dengan karakternya, baik tokoh antagonis maupun tokoh protagonis.

0 komentar:

Poskan Komentar

Jika artikel ini bermanfaat bagi anda, silahkan di like.

Komentar, Saran dan Kritik sampaikan disini. komentar akan saya moderasi dulu sebelum di tampilkan. semua komentar akan saya aprove, kecuali komentar yg masuk SPAM dan Komentar Kasar. Terimakasih sudah berkunjung ke Blog saya.

Portfolio

Carousel

Popular Posts

Magazine of the year

About Me

Recent post

Followers

Gallery

Recent Posts

Popular Posts