Jumat, 04 Mei 2012

Adab serta Akhlak Duduk-duduk (Majelis)


Allah Ta’ala berfirman :
“ Wahai orang-orang yang beriman apabila diaktakan kepada kalian untuk melapangkan majlis, maka lapangkanlah semoga Allah akan melapangkan bagi kalian. Dan apabila dikatakan kepada kalian untuk berdiri, maka berdirilah. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kalian perbuat “ (Al-Mujadalah : 11 )

Di antara adab-adab bermajlis :

Keutamaan dzikrullah didalam majlis dan larangan majlis yang tidak disebutkan nama Allah pada majlis tersebut.
 Telah ada larangan keras dari majlis yang sama sekali tidak disebut nama Allah, seperti yang disebutkan didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
 “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah dari suatu kaum mereka bangkit dari suatu majlis yang tidak disebutkan nama Allah padanya kecuali mereka bangkit semisal bangkai keledai, dan bagi mereka hanyalah penyesalan”.
Sebaliknya dengan hal itu, apabila majlis-majlis ini dimakmurkan dengan menyebut nama Allah dan memuji-Nya. Ucapan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka majlis-majlis ini akan dicintai Allah ta’ala. Dan orang yang berada dimajlis tersebut akan diberi limpahan kebaikan .
 Hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu memberitahukan kepada anda akan hal itu. Beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“ Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengelilingi jalan-jalan, mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka akan saling menyeru satu dengan lainnya: Kemarilah mengambil bagian kebutuhan kalian.
Beliau bersabda: Lalu mereka mengembangkan sayap-sayap mereka kelangit dunia.
Beliau bersabda: Lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka, sedangkan Allah lebih mengetahui dari pada mereka, Apakah yang dikatakan para hamba-Ku ?
Mereka mengatakan : “ Hamba-hambaMu bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu dan memuliakan-Mu.
Beliau bersabda: “ Lalu Allah Ta’ala berifrman : Apakah mereka melihat-Ku ?”
Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.
Beliau bersabda: Allah berfirman : lalu bagaimanakah jika mereka telah melihat-Ku ?
Beliau bersabda : Para malaikat mengatakan : Seandainya mereka melihat-Mu, maka mereka akan semakin giat beribadah, akan semakin memuliakan-Mu, memuji-Mu dan memperbanyak tasbih kepada-Mu.
Beliau bersabda: Dan apakah yang mereka minta ?
Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan: Mereka meminta surga.
Beliau bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Apakah mereka telah melihat surga ?
Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan: Tidak demi Allah wahai Rabb-Ku tidaklah mereka melihatnya.
Beliau bersabda: Allah berfirman: Lalu bagaimana jika mereka telah melihat surga ?
Beliau bersabda: Para Malaikat mengatakan : Seandainya mereka telah melihat surga, niscaya mereka akan semakin bersemangat, semakin mengharapkannya dan keinginan mereka semakin besar.
Beliau berkata: Allah berfirman: Apakah yang mereka meminta perlindungan darinya ?
Beliau bersabda : Para Malaikat mengatakan : Mereka meminta perlindungan dari api neraka.
Beliau bersabda: Allah berfirman: Apakah mereka telah melihat api neraka?
Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan : Tidak demi Allah wahai Rabb-Ku mereka belumlah melihat neraka.
Beliau bersabda: Allah berfirman: Bagaimanakah jika mereka telah melihat api neraka?
Beliau bersabda: Para Malaikat mengatakan: Seandainya mereka telah melihat api neraka, niscaya mereka akan semakin menghindarinya, dan akan semakin bertmabah rasa tkau mereka akan api neraka.
Beliau bersabda: Allah berfirman: Saya mempersaksikan kalian bahwa sesungguhnya Aku telah mengampuni meeka.
Beliau bersabda: Satu dari Malaikat itu berkata : Diantara mereka seseorang yang bukan bagian dari mereka, sesungguhnya dia datang untuk suatu keperluan.
Allah berfirman: Mereka adalah teman-teman yang sesama satu majlis, tidak orang yang duduk disamping mereka akan merasa bersedih “
Memilih rekan semajlis
 Diantara perkara yang sangat penting pada kehidupan seseorang, adalah memilih teman satu majlis. Dikarenakan manusia akan terpengaruh dengan teman satu majlisnya, dan ini suatu yang mesti, betapapun orang tersebut mempunyai kekuatan hati dan kepribadian. Olehnya itu Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengarahkan agar memilih dengan teliti sahabat baik, seperti didalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Seseorang akan menuruti agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang diantara kalian memperhatikan teman dekatnya “

 Diantara perkataan para ulama As-Salaf yang mencela pelaku bid’ah dan peringatan untuk tidak duduk dengan mereka, perkataan Al-Hasan Al-Bashri: “ Janganlah kalian duduk dengan pengumbar hawa nafsu dan janganlah kalian berdebat dengan mereka dan janganlah kalian mendengarkan mereka “
Abu Qilabah mengatakan: “ Janganlah kalian duduk dengan mereka, dan janganlah kalian bergaul dengan mereka, karena sesungguhnya saya tidak menjamin kalian akan aman bahwa mereka akan membenamkan kalian di kesesatan mereka dan akan menyamarkan sebagian besar perkara yang telah kalian ketahui “
Ibnu Al-Mubarak mengatakan: “ Jadikanlah majlis kalian bersamadenganorang-orang yang misikin dan janganlah engkau semajlis dengan pelaku bid’ah.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan: “ Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mencari halakah-halakah dzikir, maka perhatikanlah anda duduk semajlis dengan siapa. Dan janganlah majlis anda bersama dnegna pelaku bid’ah , karena sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada mereka. Dan alamat nifak adalah seeroang berdiri dan duduk bersama dengan pelaku bid’ah[7].
 Dan apabila teman duduk adalah seorang yang fasik, maka anda tidak akan selamat dari mendengarkan perkataan yang kotor, ucapan yang batil, ghibah dan terkadang juga disertai dengan pengabaian shalat dan perbuatan maksiat lainnya yang akan mematikan hati sanubari. Dan dari sinilah kita dapat jumpai bahwa sebagian besar orang-orang yang terjerumus setelah sebelumnya istiqamah, sebabnya karena duduk bersama orang yang fasik.
Ucapan salam bagi yang berada dimajlis, ketika datang dan pergi
Telah disebutkan kepada kita, aab-adab mengucapkan salam, dan penjelasan bahwa termasuk amalan yang sunnah adalah mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada disuatu majlis ketidak mendatangi mereka dan ketika hendak pergi meninggalkannya.
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Apabila seseorang diantara kalian mendatangi suatu majlis hendaknya dia mengucapkan salam, dan apabila dia bekeinginan untuk duduk maka duduklah, kemudian apabila dia hendak berdiri pergi, amak sesungguhnya yang pertama tidaklah lebih utaman dari pada yang terakhir “. At-Tirmidzi mengatakan : hadits ini hasan.
Makruh memberdirikan seseorang dari majlis duduknya kemudia dia duduk ditempat tersebut
 Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Apabila salah seorang diantara kalian berdiri – dan pada hadits Abu ‘Awanah : Barang siapa yang berdiri dari majlisnya kemudian dia kembali ke majlis duduknya, maka dia lebih berhak dengan majlis duduknya tersebut “
 Yang sebaiknya bagi seorang yang berada dimajlis untuk tidak mengabaikannya, karena dialah yang lebih berhak untk duduk dimajlis tersebut. Olehnya itu dijumpai larangan memberdirikan seseorang dari majlis duduknya yang diperbolehkan baginya. Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang diminta berdiri dari majlis dimana didudk disitu kemudian orang lain duduk dimajlis dia. Akan tetapi lapangkanlah dan luaskan. Dan Ibnu Umar membenci seseorang berdiri dari majlis duduknya lalu dia duduk ditemapt orang tersebut “
Melapangkan majlis.
Allah ta’ala berfirman :
“ Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepada kalian untuk melapangkan majlis, maka lapangkanlah semoga Allah akan melapangkan bagi kalian. Dan apabila dikatakan kepada kalian untuk berdiri, maka berdirilah. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kalian perbuat “ (Al-Mujadalah : 11 )
Tidak diperbolehkan memisahkan dua orang kecuali dengan izin keduanya.
 Berkaitandenganhal ini diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Tidak halal bagi seseorang memisahkan dua orang kecuali dengan izin mereka berdua “
Ini merupakan adab nabawiyah yang sangat agung. Yaitu melarang seseorang duduk diantara dua orang kecuali dengan izin mereka berdua. Dan sebab larangan itu : bahwa bisa jadi antara kedua orang tersebut terjalin kecintaan dan kasih sayag dan telah terikat hal-hal yang rahasia serta amanah, maka pemisahan mereka berdua dengan dduduk diantara keduanya akan membuat keduanya keberatan. Demikian disebutkan didalam ‘Aun Al-Ma’bud.
Duduk dibagian akhir majlis
Dari Jbair bin Smaurah radhiallahu ‘anhu, beliau ebrkata : Apabila kami mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam salah seorang diantara kami duduk dibagian akhir majlis “
Larangan dua orang berbicara – dengan berbisik – tanpa melibatkan orang yang ketiga
Didalam Al-Lisan, disebutkan bahwa makan an-najwa : Adalah pembicaraan rahasia antara dua orang. Jika dikatakan : Najautu najwan maknanya sayaberbicara rahasia dengannya. Demikian juga dengan kalimat : Najautuhu . Dan kata bendanya adalah an-najwa.
At-tanajau yang terlarang adalah dua orang yang berbicara rahasia tanpa melibatkan orang yang ketiga. Sebab larangan itu, agar kesedihan tidak meresapi hati orang yang ketiga karena melihat dua rekannya yang berbicara dengan rahasia.
 Sementara syaithan sangatlah bersemangat untuk memasukkan kesedihan , was-was dan kebimbangan didalam hati seorang muslim. Olehnya itu datang larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan perbuatan itu yang dengan begitu akan memotong setiap jalan syaithan. Dan agar supaya seorang muslim tidak berprasangka buruk kepada para saudaranya.

Larangan menyimak pembicaraan orang tanpa izin
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“ Barang siapa yang menceritakan suatu mimpi yang tidaklah dilihatnya maka dia akan dibebankan untuk menyatukan dua biji gandum namun tidak melakukannya. Dan barang siapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara kaum tersebut tidak menyukainya ataukah mereka menjauh darinya maka akan dituang ketelinganya timah cair pada hari kiamat. Dan barang siapa yang menggambarkan gambar mka dia akan diazab dan akan dibebani kepadanya untuk meniupkan ruh pada gmabar tersebut sementar dia tidak dapat meniupkannya “
Sikap duduk yang terlarang
Asy-Syariid bin Suwaid radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatiku disaat aku sedang duduk seperti ini. Saya meletakkan tangan kiriku dibelakang punggungku lalu saya bertelekan dengan siku tangan belakangku. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apakah engkau duduk sebagaimana duduknya kaum yang Allah murkai ? “
 Adapun keadaan yang dilarang, yaitu seseorang duduk diantara cahaya matahari dan bayangan.
 Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang dari kalian berada dibawah matahari – Makhlad mengatakan : Berada dibawah terik cahaya matahari – dan bayangan yang menaunginya menjadi menyusut sehingga sebagian dirinya berada dibawah matahari dan sebagian lainnya dinaungi bayangan maka hendaknya dia berdiri “
Larangan memperbanyak tawa
Bukanlah merupakan suatu kepribadian yang baik dan bukan juga suatu adab, apabila didalam sautu majlis lebih dominan tertawa. Sedikit tertawa akan menumbuhkan kegesitan didalam hati dan melegakan hati sementara banyak tertawa adalah penyakit yang akan mematikan hati. Dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Janganlah kalian memperbanyak tawa karena banyak tertawa akan mematikan hati “
Makruh bersendawa dihadapan beberapa orang
Ditunjukkan pada sebuah hadits yang marfu’ hingga ke-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Seseorang bersendawa dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu beliau bersabda : “ Seharusnyalah engkau menahan sendawamu dihadapan kami, karena sesungguhnya yang paling kenyang diantara mereka didunia maka akan merasakan lapar yang teramat lama pada hari kiamat “
Disunnahkan menutup majlis dengan bacaan Kaffarah Majlis
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barang siapa yang duduk disuatu majlis yang banyak ucapan sia-sianya, kemudian dia sebelum berdiri mengucapkan: Subhanakallahumma wabihamdika, Laa Ilaha anta, astagfiruka tsumma atubu ilaika, kecuali Allah akan mengampuni segala yang ada pada majlis itu “
Dan pada riwayat At-Tirmidzi : “ Subhanakallahumma wa bihamdika Asyahadu Anlaa ilaha illa anta astagfiruka wa atuubu laika “

0 komentar:

Poskan Komentar

Jika artikel ini bermanfaat bagi anda, silahkan di like.

Komentar, Saran dan Kritik sampaikan disini. komentar akan saya moderasi dulu sebelum di tampilkan. semua komentar akan saya aprove, kecuali komentar yg masuk SPAM dan Komentar Kasar. Terimakasih sudah berkunjung ke Blog saya.